Live Streaming
Page 1 of 2

jpnn.comSINTANG - Perempuan muda warga Kecamatan Sintang Kota, Kabupaten Sintang, sebut saja Bunga, mengalami luka memar di mata dan paha bagian sebelah kiri usai dihajar pacarnya, inisial A. Pemicu penganiayaan ini sepele. Hanya karena perempuan berusia 19 tahun itu menolak ajakan A untuk mandi bersama. Kini pria yang berusia 32 tahun itu ditahan dan menjalani proses hukum di Mapolres Sintang.

 Kapolres Sintang AKBP Adhe Hariadi menerangkan, hasil pemeriksaan sementara diketahui bahwa kejadian bermula saat Bunga sedang menyiram bunga di rumah kontrakannya, di Gang Eklesia, Jalan Mungguk Serantung, Kelurahan Kapuas Kanan Hulu, pada Senin (1/7) sekira pukul 12.00 WIB.

“Jadi cowoknya (A) mengajak pacarnya (Bunga) mandi. Tetapi ditolak dengan alasan masih menyiram bunga. Namun tersangka A tetap terus mengajak dan pacarnya masih tetap menolak,” ujar Adhe. Karena terus ditolak, kata Adhe, akhirnya A melempar handphone/smartphone android miliknya ke Bunga. Lemparan itu tepat mengenai paha sebelah kiri. Tak terima dilempar, Bunga masuk ke dalam kontrakan dengan niat berusaha untuk membalas.

“Sesampainya di dalam kontrakan, temannya datang dan melerai. Namun pada saat itu juga tersangka A langsung memukul dan mengenai mata sebelah kiri korban,” jelas Adhe. Akibat penganiayaan dan luka memar itu, pada Rabu (3/7), Bunga mendatangi Polsek Sintang Kota untuk melaporkan apa yang dialaminya.

Atas laporan itulah A kemudian ditangkap di kediamannya, tak jauh dari rumah korban. Tanpa perlawanan. Barang bukti yang turut disita berupa satu handphone yang digunakan pelaku untuk melempar korban.“Pelaku dijerat Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. Dengan ancaman pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan. Namun jika perbuatan pelaku mengakibatkan luka-luka berat, maka dapat diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun,” tegas Adhe. (Saipul Fuat/rk)

 

Sumber : https://www.jpnn.com/news/dihajar-pacar-gegara-menolak-diajak-mandi-bareng?page=1

Sleman - Polda DIY menyebut ada tiga Tempat Kejadian Perkara (TKP) terkait rangkaian pembunuhan mahasiswa asal Timor Leste, Joao Bosco Baptista (21). Polisi masih melakukan pendalaman lebih lanjut.

"Perkara agak rumit, ada tiga TKP berbeda dalam satu rangkaian peristiwa tindak pidana pembunuhan dengan korban Bosco," kata Direktur Reskrimum Polda DIY, Kombes Pol Hadi Utomo saat memberikan keterangan pers di Mapolda DIY, Jumat (26/7/2019). Hadi menerangkan, TKP pertama adalah lokasi korban dijemput oleh pelaku. TKP kedua lokasi korban mengalami penganiayaan. Keduanya berada di wilayah Banguntapan, Bantul.

"TKP ketiga korban ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa," jelasnya. Polisi berhasil menangkap salah satu tersangka, inisial MTN alias DN. Dia ditangkap di tempat persembunyiannya di wilayah Madiun, Jawa Timur. 

"Perkembangan terakhir kita sudah melakukan penangkapan terhadap salah satu tersangka, inisial MTN alias DN. Dia warga Timor Leste," kata Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol Yuliyanto.

Peran MTN diduga sebagai orang yang membawa mayat korban dari lokasi penganiayaan di Banguntapan, Bantul untuk dibuang ke lereng jurang Cemorosewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.

"Kasus ini masih dalam pengembangan," imbuhnya. Mayat Bosco ditemukan tergeletak di lereng jurang Cemorosewu pada 14 Juli 2019. Melalui proses panjang, mayat Bosco yang saat itu kondisinya sudah membusuk berhasil diidentifikasi.

Dia diduga dianiaya hingga tewas setelah sebelumnya dilaporkan hilang oleh keluarganya.
(sip/sip)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4640655/polda-diy-ada-3-tkp-di-kasus-pembunuhan-mahasiswa-timor-leste?_ga=2.9165109.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Ponorogo - Setelah dua hari diselidiki, polisi akhirnya menangkap pembunuh Hervina Rahma Sari (19) yang mayatnya ditemukan di bawah jembatan Galok di Desa/ Kecamatan Sampung. Pelaku adalah kekasih korban sendiri. Pelaku adalah Joko Harmanto (26), warga Desa Lembah, Kecamatan Babadan, Ponorogo.  "Pelaku ditangkap di salah satu rumah sakit di Ponorogo saat menunggu istrinya," tutur Kapolres Ponorogo AKBP Radiant, Kamis (25/7/2019).

Radiant mengatakan Joko memiliki hubungan asmara dengan korban sejak Februari 2019. Tapi pada bulan Maret 2019, pelaku ternyata menikah dengan wanita lain.  Selama menjalin hubungan, kata Radiant, mereka telah melakukan hubungan intim sehingga tumbuh benih di rahim korban. Saat benih itu sudah berusia 6 bulan, korban meminta tanggung jawab Joko. "Karena bingung dan takut istrinya mengetahui hubungan gelapnya dengan korban terbongkar, akhirnya pelaku berniat membunuh korban," terang Radiant. 

Pelaku merencanakan pergi ke Telaga Sarangan, Magetan bersama korban pada Senin (22/7) siang. Biasanya pelaku mendatangi rumah korban saat mau berkencan. Tapi hari itu korban disuruh ke Terminal Seloaji untuk selanjutnya pergi bersama ke Telaga Sarangan, Magetan

Sesampainya di sana ternyata kondisi ramai, pelaku akhirnya mengajak pulang korban. Di tengah perjalanan pulang pada Selasa (23/7) dini hari, pelaku menemukan tempat sepi disekitar Jembatan Galok. Dia pun berpura-pura ingin buang air kecil. 

Korban pun mengikuti dari belakang. Saat berpura-pura buang air kecil, pelaku mencekik korban. "Korban lalu dicekik lehernya, karena sempat ada perlawanan. Korban dan pelaku terjatuh ke bawah jembatan. Dibawah jembatan, korban dibenturkan kepalanya ke kaki jembatan hingga meninggal," jelas Radiant.

Setelah membunuh, barang-barang korban seperti tas, helm, telepon genggam dan sim card dibuang Joko di Jembatan Asembuntung. Joko ternyata seorang residivis. Pria 26 tahun itu residivis dalam kasus penganiayaan.
Data dari kepolisian, atas kasus penganiayaan yang dilakukannya, Joko ditahan di Lapas Porong, Sidoarjo. Tahun 2018 lalu dia baru keluar dari rumah tahanan. Setahun bebas ternyata tidak membuat niat jahat Joko terkekang. Dia pun memacari Hervina yang saat itu masih bersekolah di SMKN 1 Ponorogo dan dipacarinya.

Joko yang seorang pedagang sayur itu disebut polisi dikenal sebagai playboy. Dia mempunyai 7 pacar, termasuk korban. Radiant mengatakan selain berpacaran dengan Hervina, Joko juga memiliki hubungan asmara dengan 6 wanita lainnya. Bahkan salah satunya bekerja sebagai TKI di Taiwan. 

Radiant tidak mengerti bagaimana pelaku bisa memadu kasih dengan 7 perempuan. Motor yang digunakan pelaku saat ini, uang mukanya dibayar oleh salah satu kekasihnya. "Motor itu juga yang dipakai untuk berpacaran dengan korban," terang Radiant. Motor Honda BeAT bernopol AE 3387 WM tersebut kini disita sebagai barang bukti. 

"Padahal kondisi istri pelaku saat ini sedang sakit dan dirawat di rumah sakit," tandas Radiant.

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4639949/bunuh-pacar-yang-hamil-6-bulan-akhiri-kisah-cinta-playboy-asal-ponorogo?_ga=2.42580517.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Purworejo - Seorang pria asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah berhasil menipu mahasiswi di Purworejo dengan berlagak seperti anggota polisi. Setelah korban terpedaya, barang-barang milik korban pun dibawa kabur oleh pelaku termasuk sepeda motor.

Tersangka adalah Damas Samboja (23) warga Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Pria yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini telah menipu seorang mahasiswi Arum Setyani (25) warga Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Purworejo. Sebelum menipu dan menggasak barang-barang milik korban, tersangka berkenalan dengan korban melalui media sosial TANTAN. Untuk meyakinkan korban, tersangka sendiri memasang Display Picture (DP) dengan foto berpenampilan seperti anggota polisi dan berpose di depan mobil polisi militer lengkap dengan menenteng senjata.

"Kalau di depan petugas tersangka tidak ngaku sebagai anggota polisi, tapi kalau dengan korban belum tahu karena modusnya dengan berpenampilan seperti polisi, foto di depan mobil polisi militer dan membawa senjata. Akhirnya korban percaya dan mau diajak ketemuan. Korban sendiri adalah seorang mahasiswi," ungkap Kasatreskrim Polres Purworejo, AKP Haryo Seto Liestyawan saat menggelar pers rilis, Kamis (25/7/2019). Setelah tersangka dan korban bertemu, lanjut Haryo, mereka kemudian berencana untuk menginap di sebuah hotel di Purworejo dengan memesan sebuah kamar. Saat korban mandi, tersangka kemudian melancarkan aksinya dengan membawa kabur barang-barang milik korban berupa dompet, HP dan sepeda motor.

"Setelah berhasil membawa barang-barang dan motor korban, kemudian tersangka kabur menuju arah Purwokerto. Nah, modus ini sudah dilakukan tersangka beberapa kali baik di Semarang maupun Purworejo," lanjutnya. Karena merasa tertipu, korban pun akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada petugas hingga akhirnya tersangka berhasil diringkus petugas beberapa hari lalu di rumah kos tersangka di Purwokerto.

Sementara itu, tersangka yang pernah menjadi sopir taksi online itu mengaku bahwa foto dirinya yang berlagak seperti polisi itu ia ambil di sebuah bandara saat mengantar penumpang. Adapun hasil kejahatan sebelumnya, dijual secara online. "Waktu itu pas di bandara, terus ada mobil itu (polisi militer) ya saya minta foto, senjatanya ya pinjam sekalian boleh kok dipinjam buat foto. Sebelumnya juga dapat sepeda motor, tapi sudah saya jual lewat online," katanya.

Dari kasus tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti milik korban berupa satu unit sepeda motor, dompet, surat-surat kendaraan, kartu identitas, ATM serta sebuah HP. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini tersangka harus mendekam di sel tahanan Mapolres Purworejo dan bakal dijerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman 5 tahun penjara.
(sip/sip)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4638705/polisi-gadungan-ini-pedaya-mahasiswi-di-purworejo?_ga=2.205255312.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

 

Purworejo - Seorang pria asal Kabupaten Semarang, Jawa Tengah berhasil menipu mahasiswi di Purworejo dengan berlagak seperti anggota polisi. Setelah korban terpedaya, barang-barang milik korban pun dibawa kabur oleh pelaku termasuk sepeda motor. Tersangka adalah Damas Samboja (23) warga Desa Kalikayen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Pria yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini telah menipu seorang mahasiswi Arum Setyani (25) warga Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Purworejo.

Sebelum menipu dan menggasak barang-barang milik korban, tersangka berkenalan dengan korban melalui media sosial TANTAN. Untuk meyakinkan korban, tersangka sendiri memasang Display Picture (DP) dengan foto berpenampilan seperti anggota polisi dan berpose di depan mobil polisi militer lengkap dengan menenteng senjata. "Kalau di depan petugas tersangka tidak ngaku sebagai anggota polisi, tapi kalau dengan korban belum tahu karena modusnya dengan berpenampilan seperti polisi, foto di depan mobil polisi militer dan membawa senjata. Akhirnya korban percaya dan mau diajak ketemuan. Korban sendiri adalah seorang mahasiswi," ungkap Kasatreskrim Polres Purworejo, AKP Haryo Seto Liestyawan saat menggelar pers rilis, Kamis (25/7/2019).

Setelah tersangka dan korban bertemu, lanjut Haryo, mereka kemudian berencana untuk menginap di sebuah hotel di Purworejo dengan memesan sebuah kamar. Saat korban mandi, tersangka kemudian melancarkan aksinya dengan membawa kabur barang-barang milik korban berupa dompet, HP dan sepeda motor. "Setelah berhasil membawa barang-barang dan motor korban, kemudian tersangka kabur menuju arah Purwokerto. Nah, modus ini sudah dilakukan tersangka beberapa kali baik di Semarang maupun Purworejo," lanjutnya.

Karena merasa tertipu, korban pun akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada petugas hingga akhirnya tersangka berhasil diringkus petugas beberapa hari lalu di rumah kos tersangka di Purwokerto. Sementara itu, tersangka yang pernah menjadi sopir taksi online itu mengaku bahwa foto dirinya yang berlagak seperti polisi itu ia ambil di sebuah bandara saat mengantar penumpang. Adapun hasil kejahatan sebelumnya, dijual secara online.

"Waktu itu pas di bandara, terus ada mobil itu (polisi militer) ya saya minta foto, senjatanya ya pinjam sekalian boleh kok dipinjam buat foto. Sebelumnya juga dapat sepeda motor, tapi sudah saya jual lewat online," katanya.

Dari kasus tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti milik korban berupa satu unit sepeda motor, dompet, surat-surat kendaraan, kartu identitas, ATM serta sebuah HP. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini tersangka harus mendekam di sel tahanan Mapolres Purworejo dan bakal dijerat pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan ancaman 5 tahun penjara.
(sip/sip)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-4638705/polisi-gadungan-ini-pedaya-mahasiswi-di-purworejo?_ga=2.17420985.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Surabaya - Dalam sebulan terakhir, Polda Jatim menangani dua kasus pencabulan oknum guru terhadap murid laki-lakinya. Yang pertama, Kepala SMP swasta di Surabaya AS (40) yang mencabuli enam siswanya. Kemudian pencabulan oleh oknum guru pembina ekstrakurikuler pramuka MM (30) terhadap 15 murid. Menanggapi dua kasus tersebut, lembaga pemerhati dan perlindungan anak, Surabaya Children Crisis Center (SCCC) mengecam keras aksi pelecehan oleh guru. Ketua SCCC Edward Dewaruci menegaskan, upaya pencegahan penting agar kejadian tak terulang.

Edward menambahkan, pencegahan bisa dilakukan dengan peningkatan kepedulian sosial terhadap anak-anak. Hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat, misalnya orang tua. "Pencegahan bukan hanya sosialisasi, ndak melulu itu. Bisa program ketahanan keluarga. Jadi bagaimana keluarga itu betul-betul bisa membuat anak terjamin dalam tumbuh kembangnya di keluarga. Itu yang harus diintervensi oleh pemerintah supaya dia memiliki ketahanan dan kekuatan," papar Edward kepada detikcom di Surabaya, Kamis (25/7/2019).

"Mesti dievaluasi selama ini pemerintah daerah, pemerintah provinsi bahkan mungkin kecamatan punya program seperti apa untuk melakukan pencegahan dan kepedulian sosial itu," imbuhnya. Tak hanya itu, Edward mengatakan proses rehabilitasi dan pendampingan untuk korban memang sudah berjalan. Namun, Edward menyebut jangan sampai kasus pelecehan ini terlanjur terjadi. Edward menekankan proses pencegahan memang lebih penting. "Kalau penanganan kasusnya, terus untuk rehabilitasi korban kan sudah berjalan. Tapi kan dengan jumlah yang terus ada, harus ada kegiatan untuk terus berjalan, gitu yang penting," ucap Edward.'

"Jadi ndak bisa sekadar pendekatan hukuman berat begitu, tapi itu kan kalau hukuman berat kalau sudah terlanjur terjadi. Kalau terlanjur terjadi kan pemulihannya akan lebih susah. Tapi kalau pencegahan insya Allah jumlah kasusnya turun," lanjutnya. Kemudian melihat kasus yang terungkap akhir-akhir ini, Edward mengatakan, tren pelaporannya naik. Justru hal ini baik karena korban sudah mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi untuk ditangani lebih lanjut.

"Tapi kalau dilihat dari tren peningkatan laporan, berarti keberanian untuk melapor sudah cukup bagus. Ini kan banyak yang sudah terungkap, jadi sudah cukup mau melapor. Tapi jangan semua jadi laporan tapi ndak ada pencegahan," pungkasnya. (sun/bdh)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4638442/kasus-pencabulan-guru-menyeruak-pemerhati-anak-sarankan-pencegahan?_ga=2.209313170.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Tasikmalaya - Seorang anak di Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi korban Asusila. Korban yang masih berusia 14 tahun ini dicabuli oleh ayah tirinya sendiri di rumah. Kejadian bermula saat korban diminta ayah tirinya, AS (54), untuk membuat mi. Namun korban menolak hingga timbul pikiran cabul pada otak AS."Korban diminta masak mi, tapi dia menolak. Terus korban dicabuli dengan cara ditarik, dibekap dan diancam agar jangan bilang pada ibunya," ujar Kapolresta Tasikmalaya AKBP Febry Kuriniawan Ma'ruf, Rabu (24/7/2019).

Di bawah ancaman tersebut, korban pun tak bisa berkutik. Hingga akhirnya terjadi tindak pidana pencabulan. Singkat cerita, ibu korban mengetahui perbuatan tersebut dan melaporkannya ke kepolisian. Tak perlu waktu lama, AS langsung ditangkap. Sementara itu AS mengaku hanya satu kali berbuat cabul pada anaknya. "Hanya sekali, saya khilaf," kata AS.

Selain mengamankan AS, polisi juga menyita sejumlah barang bukti seperti daster kuning motif bunga dan celana warna biru milik korban yang menjadi saksi bisu tindak pencabulan.

AS kini telah ditahan di Mapolresta Tasikmalaya dan dijerat Pasal 81 ayat (3) dan Pasal 82 ayat (2) UU No 17 tahun 2016 tentang penetapan PP pengganti UU No 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan hukuman minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun penjara. 
(tro/tro)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4637625/ayah-di-tasikmalaya-cabuli-anak-tiri-saat-disuruh-masak-mi?_ga=2.239318403.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Jakarta - Artis Kris Hatta kembali berurusan dengan polisi. Kali ini bukan masalah pemalsuan buku nikah dengan Hilda, melainkan dugaan penganiayaan terhadap pria bernama Anthony. "Iya betul," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono kepada detikcom, Rabu (24/7/2019).

Informasi yang diperoleh detikcom, Kris Hatta ditangkap sekitar pukul 07.00 WIB. Dia ditangkap saat sedang tidur di sebuah rumah kos di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Belum diketahui lebih lanjut soal penangkapan Kris Hatta ini. Namun sumber menyebut dia ditangkap karena menganiaya seorang laki-laki.

"Nanti masih dalam pemeriksaan," kata Argo. Kris Hatta pernah menjadi pemberitaan karena pernikahannya dengan Hilda Vitra dipermasalahkan. Kris Hatta dilaporkan ke polisi karena diduga memalsukan pernikahan tersebut.

Kris Hatta kemudian dinyatakan bersalah dan divonis. Dia kini telah bebas setelah dipenjara beberapa bulan di LP Bulak Kapal, Bekasi.

 

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-4637178/diduga-menganiaya-orang-artis-kris-hatta-ditangkap-polisi?_ga=2.50460329.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

Sukabumi - Akhir hidup Amelia Ulfah Supandi (22) sungguh tragis. Ia dibunuh. Jasad wanita tersebut ditemukan warga di tepi sawah Jalan Sarasa, Kecamatan Cibereum, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Senin (22/7). Siapa orang durjana yang menghabisi nyawa Amelia masih menjadi teka-teki. Tewasnya gadis lulusan D3 Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menyisakan duka mendalam bagi keluarga. Selain dikenal cerdas dan sarat prestasi, Amelia sosok yang ramah kepada siapa pun. "Mungkin karena dia dikenal dengan prestasi sehingga banyak yang melayat ke rumah dan ikut dalam pemakaman," ujar Endang Supandi, ayah Amelia, di rumah duka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (23/7).

Amelia terakhir kali pamit pada orang tuanya untuk mendaftar S1 di IPB Bogor pada Sabtu 20 Juli siang. Selepas itu keluarga mengaku mendapat kabar dari Amelia menjelang maghrib. Saat itu dia mengaku dalam perjalanan dari Ciawi dan berlanjut naik angkutan umum ke Cianjur.  "Setelah itu tidak ada komunikasi lagi, bahkan sampai subuh pun tidak ada balasan," ujar Endang. Keluarga berharap polisi mengusut dan menangkap pembunuh Amelia. "Saya harap misteri meninggalnya anak saya bisa secepatnya diungkap," kata Endang. Polisi sudah melaksanakan serangkaian penyelidikan guna membuat terang kasus kematian Amelia. Polisi memastikan bahwa Amelia menjadi korban pembunuhan. "Kita turunkan dua tim, Buser dan tim khusus untuk menggarap peristiwa 338 (pembunuhan) ini. Kasus Amelia tentunya menjadi atensi kami," kata Kasatreksrim Polres Sukabumi Kota AKP Rizaldi Satria di ruang kerjanya, Selasa (23/7).

Rizaldi dan timnya masih mengumpulkan keterangan saksi serta petunjuk lainnya guna mengungkap kasus pembunuhan ini. Selain itu, polisi menelusuri jejak Amelia sebelum ditemukan tak bernyawa dengan kondisi mengenaskan di tepi sawah. 
(sya/bbn)

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4636883/siapa-orang-durjana-yang-habisi-nyawa-amelia?_ga=2.8026418.1279176802.1563852226-1333018960.1563852226

JPNN.COM, JAKARTA- Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri membongkar tindak pidana pemalsuan obat keras dengan obat-obatan paten yang tidak sesuai standar. Dalam kasus ini, Bareskrim menetapkan satu tersangka berinisial AFAF, 52. “Tersangka melakukan repacking terhadap obat keras generik menjadi obat-obatan paten non-generik yang memiliki harga lebih mahal,” kata Dirtipidter Brigjen Fadil Imran di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (22/7).Tersangka AFAF menggunakan perusahaanya bernama Jaya Karunia Investindo (JKI) sebagai Perusahaan Besar Farmasi (PBF) yang terdaftar resmi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). "Dia ini menyalurkan obat-obatnya ke 197 apotek, seolah itu adalah obat paten,” katanya.

Dalam aksinya, tersangka menggunakan bahan baku obat yang diduga telah kedaluwarsa dan dimasukkan ke dalam kemasan untuk dijual kembali. Aksi ini telah dilakukan selama tiga tahun dan sudah memalsukan 51 jenis obat."Rata-rata obat yang bernilai ekonomis tinggi. Seperti obat antibiotik, asam urat, obat penyakit dalam, dan sabagainya,” jelas Fadil. Akibat kejahatan ini, kata Fadil, selain berdampak buruk kepada kesehatan, negara juga dirugikan dan membuat publik menjadi tidak percaya terhadap distributor obat-obat resmi.

Bersama satu orang pelaku, polisi turut menyita bahan baku obat yang dioplos dengan puluhan jenis kemasan obat dan alat-alat produksi tersangka untuk mengemas obat palsu dan tiga dua obat sekunder yang siap edar. (rmol)

 

Sumber : https://www.jpnn.com/news/afaf-jual-obat-palsu-ke-197-apotek-begini-modusnya

Page 1 of 2

Tentang Kami