Live Streaming

sumber : antaranews.com

Jajaran Polrestabes Bandung berhasil menangkap 48 pelaku kriminal yang sering beraksi di wilayahnya dalam rentang waktu satu bulan yakni pada Maret 2018.

Ke-48 pelaku yang ditangkap berasal dari berbagai modus kejahatan seperti pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), pencurian dengan kekerasan (Curas), dan pencurian dengan pemberatan (Curat).

"Tak jarang korban Curas, meninggal dunia dan terluka parah akibat tasnya dirampas lalu terjatuh. Karena itu, kami akan menindak tegas pelaku curas yang telah meresahkan masyarakat," ujar Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol Hendro Pandowo di Bandung, Kamis.

Hendro mengatakan, jajaran Polrestabes Bandung tidak akan segan-segan dalam menangkap dan menindak para pelaku yang meresahkan masyarakat.

Menurut Hendro, Kota Bandung merupakan kota tujuan wisata, sehingga sudah sewajibnya menciptakan rasa aman dan nyaman, baik untuk para wisatawan maupun masyarakat.

"Kami melakukan pengungkapan dan penangkapan pelaku tiga C yaitu Curas, Curat, dan Curanmor serta kejahatan lain demi menciptakan keamanan bagi masyarakat Kota Bandung dan pendatang," kata dia.

Ia merinci dari 48 pelaku kejahatan tersebut terdiri atas curat 13 kasus, curas 21, dan curanmor 14.Empat orang diantaranya terpaksa ditembak karena membahayakan nyawa petugas saat akan ditangkap.

Modus kejahatan para pelaku ini, kata Hendro, seperti memepet, melukai, dan merampas barang berharga milik korban. Ada juga pelaku yang menodongkan senjata tajam dan senjata api dalam aksinya.

"Pola kejahatan jalanan ini, bisa pagi, siang, dan malam. Namun paling rawan terjadi mulai pukul 00.00 WIB sampai pagi hari pukul 06.00 WIB," kata dia.

Dari hasil pengungkapan itu, polisi mengamankan barang bukti berupa tiga unit mobil, 13 unit sepeda motor, satu pucuk senjata airshoft gun, lima bilah golok, tiga bilah pisau, delapan kunci astag, tiga obeng, empat tas milik korban, dua kartu ATM,?11 unit handphone berbagai merek, tiga laptop, empat kamera, lima jam tangan, tiga unit TV, dan uang tunai Rp.4,1 juta.

sumber : TRIBUNNEWS.COM

 

Empat pelaku pencurian kendaraan bermotor diringkus anggota Polsek Batam KotaDari pengakuan mereka, motor hasil curian tersebut digunakan sendiri untuk pergi bermain di warnet. Tragisnya, dari empat pelaku, tiga di antaranya masih di bawah umur.

Keempat pelaku yang diamankan berinisial DEP (19), RR (14), PP (15) dan FA (13).

Kapolsek Batam Kota Kompol Arwin saat dikonfirmasi mengatakan, satu pelaku masih berusia 13 tahun. Kepada pelaku diberlakukan disersi dan tersangka tidak ditahan.

 

"Meskipun tiga orang masih di bawah umur, hanya satu yang kita disersi karena usianya masih 13 tahun," sebut Arwin, Senin (6/3/2017) siang.

 

Dari pengakuan DEP, ia mengintai sepeda motor yang tidak dikunci stangnya. Kemudian motor tersebut didorong kesuatu tempat yang aman.

 

"Setelah kami dorong, motor itu kami buka dan hidupkan kontaknya sendiri. Motor itu kami pakai saja ganti-gantian," kata DEP.

 

Mereka tidak pernah menjual motor hasil curiannya karena hanya dipakai untuk main-main di warnet. Jika ada teman yang ingin memakai, mereka meminjamkan begitu saja.

 

"Kalau ada yang mau pakai, pakai saja. Motor itu nggak pernah kami jual," terangnya lagi.

 

Para pelaku ditangkap di kawasan Simpang KDA Batam Centre. Mereka sudah mengakui perbuatannya.

 

"Awalnya mengaku mencuri sepeda. Setelah kita tanya lagi, ternyata mereka juga mencuri sepeda motor," lanjutnya.

Komplotan pelaku kejahatan ini bahkan sudah sering kali melakukan aksinya.

"Sudah tujuh kali, namun laporan yang masuk baru tiga saja," katanya.

Arwin mengimbau masyarakat, jika ada yang merasa kehilangan sepeda motor segera datang ke kantor polisi membawa STNK dan fotokopi BPKB.

Sebanyak lima nelayan asal Baubau, Sulawesi Tenggara yang ditangkap otoritas Australia, pernah menjual sirip ikan hiu di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Mereka beberapa kali menjual sirip ikan hiu di Kota Kupang selama bulan September 2017 kemarin, " kata Kepala Seksi Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi NTT Muhammad Saleh Goro. 

Pengakuan para nelayan itu lanjut Goro, disampaikan kepada petugas dari Konsulat RI di Darwin Jumat (13/10/2017).

Goro menyebutkan, sirip ikan hiu itu dijual ke pengumpul di Kupang, dengan harga per kilogramnya yakni Rp 700.000. "Selain sirip, para nelayan ini juga menjual daging ikan hiu dengan harga Rp 5.000 per kilogram," ujarnya.

Lima nelayan itu lanjut Goro, yakni La Karman (30) yang merupakan kapten kapal, La Hendri (23), La Sarwan (23), La Supriadin (23) dan La Ode Tahirman (37), masing-masing adalah anak buah kapal. 

Kapal ikan yang tertangkap petugas perairan Australia merupakan kapal ikan milik La Dando E, warga Kota Kupang, NTT.  "Informasi dari konsulat RI di Darwin bahwa lima orang nelayan Kapal Motor Hidup Bahagia yang ditangkap oleh pihak Australia, karena diduga melakukan ilegal fishing tersebut berasal dari Baubau, "kata Goro.

Saat ditangkap, ditemukan sebanyak 24 ekor ikan hiu yang sudah mati di dalam kapal. Menurut Goro, informasi tertangkapnya lima orang nelayan Indonesia itu, pertama kali diperoleh dari AFMA Australia.

Para nelayan ditangkap tanggal 8 Oktober 2017 di wilayah perairan Australia, dan selanjutnya dibawa ke Darwin dan tiba tanggal 10 Oktober 2017.  

polda Metro Jaya telah menetapkan dua petinggi PT Asuransi Allianz Life Indonesia menjadi tersangka yakni Direktur Utama Joaching Wessling dan Manager Claim Yuliana Firmansyah. 

Penetapan tersebut, atas laporan nasabah yang merasa dipersulit Asuransi Allianz Life Indonesia untuk mencairkan klaim asuransi.

Lantas bagaimana tanggapan Allianz Indonesia terkait hal itu?

Head of Corporate Communication Asuransi Allianz Life Indonesia Adrian DW mengatakan, perusahaan menghormati para nasabah untuk pengajuan klaim.

Dalam hal ini, jelas dia, perusahaan selalu mengacu kepada peraturan yang ada untuk menanggapi pengajuaan klaim dari nasabah.

"Allianz senantiasa menghormati hak para nasabahnya, terutama terkait dengan manfaat klaim. Kami selalu bertindak sesuai dengan ketentuan di dalam polis dan seturut hukum dan peraturan yang berlaku. Seluruh permohonan dan keberatan dari nasabah juga diperlakukan sesuai dengan hal tersebut," ujar dia 

 

Namun, menurut Adrian, perusahan belum mau mengomentari  terkait dengan penetapan tersangka dua petinggi Asuransi Allianz Life Indonesia. 

"Allianz mengetahui perihal keberatan salah satu nasabah kami, namun saat ini belum dapat memberikan komentar lebih lanjut terkait proses yang sedang berjalan," terang dia. 

Sekadar informasi, terdapat dua laporan yang masuk ke Polda Metro Jaya dalam kasus ini.

Korban pertama bernama Irfanius Al Gadri dan dan korban kedua Indah Goena Nanda. Keduanya melapor ke polisi lantaran merasa dipersulit saat melakukan klaim asuransi.

Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan mempertanyakan maksud pendukung Rizieq Shihab yang ingin mengepung bandara saat pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu pulang ke Indonesia dari Arab Saudi.

Tentang Kami