Print this page
Zuckerberg: AS Tak Akan Menang kalau Memblokir AI China
Monday, 03 August 2026 10:54

Zuckerberg: AS Tak Akan Menang kalau Memblokir AI China

CEO Meta Mark Zuckerberg punya pendapat berbeda dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Ia menilai bahwa Amerika Serikat (AS) sebaiknya tidak memblokir kecerdasan buatan (AI) asal China demi memenangkan persaingan AI. Pernyataan ini disampaikan dalam wawancara Zuckerberg dengan outlet media Financial Times yang diterbitkan pada Rabu (29/7/2026) waktu AS. Zuckerberg menilai bahwa pelarangan terhadap AI buatan China bukanlah solusi yang efektif dalam menghadapi persaingan yang meningkat. Ia justru menyarankan agar perusahaan-perusahaan teknologi AS mengidentifikasi hambatan dan rintangannya yang menghambat inovasi secara sistematis, guna bersaing dengan China secara lebih baik.

Pernyataan ini muncul ketika AS tengah memperdebatkan kebijakan AI, termasuk bagaimana menghadapi pesatnya perkembangan perusahaan AI asal China. Beberapa pejabat senior di pemerintahan Presiden Donald Trump sebelumnya menuding perusahaan AI China, Moonshot AI, menggunakan model AI buatan perusahaan AS secara diam-diam untuk melatih model terbarunya, Kimi K3. Namun, Moonshot AI membantah tuduhan tersebut. Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga mengatakan pemerintah dapat mempertimbangkan pemberian sanksi kepada laboratorium AI asal China apabila terbukti melakukan pencurian kekayaan intelektual (intellectual property/IP). Pernyataan Zuckerberg juga disampaikan sehari setelah pemerintah AS mengumumkan pelarangan impor robot humanoid dan robot berkaki empat buatan luar negeri, termasuk sebagian besar produk asal China.

Pemerintah AS beralasan perangkat tersebut menimbulkan "risiko yang tidak dapat diterima" terhadap keamanan nasional. Selain robot, larangan juga mencakup power inverter atau konverter daya yang digunakan pada infrastruktur energi terbarukan dan jaringan listrik. Kebijakan tersebut menjadi langkah terbaru Washington untuk memperkuat industri dalam negeri sekaligus mengamankan rantai pasok teknologi strategis di tengah persaingan yang semakin ketat dengan China dalam pengembangan AI dan teknologi canggih lainnya.Pernyataan di atas juga muncul setelah Zuck menerbitkan tulisan opini terkait kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) fase selanjutnya yang disebut "supercerdas" atau superintelligence di The Wall Street Journal (WSJ).

Menurut pendiri Facebook itu, teknologi AI seharusnya dapat diakses oleh semua orang agar mampu mendorong inovasi dan menciptakan peluang baru. Ia menyebut pertanyaan terpenting di era AI bukan lagi apakah superintelligence akan hadir, melainkan siapa yang nantinya memiliki akses terhadap teknologi tersebut. "Apakah superintelligence akan dipusatkan dan dibatasi hanya untuk beberapa institusi, atau menjadi alat yang memberdayakan semua orang?" tulis Zuckerberg.

 

Sumber: Kompas

Last modified on Monday, 03 August 2026 11:01