Siang itu udara tampak redup , partikel asap masih menyelimuti kota Batam, dari luar Worshop Perrio Batik tampak sepi,pintu dan jendelanya tertutup rapat. Tiba – tiba muncul sosok perempuan membukakan pintu, dia adalah bu Ida istri pak Toto langsung mempersilakan saya masuk (Rabu 30/September/2026). Saat memasuki ruang workshop Perrio batik untuk pertama kalinya seketika pandangan saya terpesona dengan koleksi puluhan kain batik yang tersusun rapih dengan warna warna yang indah berada sebelah kanan ruangan , di tengah ada lemari kecil tempat menyimpan aneka mini poch, tas wanita yang semuanya dikombinasikan dengan aneka perca batik , paling bawah terdapat canting cap yaitu cetakan atau alat stempel yang digunakan untuk membuat motif dalam membatik , terbuat dari lempengan tembaga atau kuningan tipis yang dibentuk menjadi pola atau motif tertentu. Fungsinya Sebagai pengganti canting tulis untuk mencetak cairan malam (lilin batik) ke permukaan kain secara berulang dan cepat, lalu sebelah kiri tergantung kain polos yang siap disulap menjadi kain batik cantik dan paling pojok ada meja kecil untuk alas pembuatan batik cap.
Nampak lelaki paruh baya tengah bersiap – siap akan membuat batik cap, kain berwarna biru polos sudah dibentang diatas meja, dengan gesitnya tangannya mulai bekerja. ”Proses pembuatan batik cap hanya membutuhkan waktu sebentar saja,berbeda dengan pembuatan batik tulis , semakin rumit motifnya otomatis akan membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengerjaanya, bisa satu bahkan dua mingguan, apabila menggunakan canting tulis kecil, motifnya rumit sehingga membuat gerakan tangan kita semakin pelan dan harus teliti,”pak Sudianto yang akrab dipanggil Toto membuka obrolan siang itu.
Berada dikawasan komplek perumahan Taman Marchelia Blok C No. 124, Kelurahan Taman Baloi, lokasinya mudah dijangkau . Perrio Batik adalah usaha batik asal Batam Kepulauan Riau, yang didirikan oleh pak Sudianto pada tahun 2019. Pria satu putra kelahiran Jepara Jawa Tengah 54 tahun lalu ini lulusan ISI – Institut Seni Indonesia tahun1999 . “Waktu itu modal saya hanya Rp10.000.000,- sudah bisa membeli perlengkapan untuk membatik”,lanjut pak Toto.
Usaha ini mengangkat kearifan lokal budaya Kepulauan Riau menjadi karya batik modern yang elegan dan bernilai seni tinggi. Ada motif Gonggong yang terinspirasi dari siput laut khas Kepulauan Riau, motif Ikan Marlin dan juga motif yang paling banyak peminatnya yaitu Jembatan Barelang & Rumput Laut menampilkan ikon kebanggaan Kota Batam. ” Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, ujar pak Toto saat ditanya kenapa memilih motif Melayu. Saya akan terus menggali potensi – potensi yang ada di Bumi Melayu dan kepulauan Riau.
Perrio Batik adalah salah satu UMKM binaan BI Kepri sejak berdiri thn 2019, ini adalah program pemberdayaan Bank Indonesia untuk membantu Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah naik kelas, go digital, dan go ekspor. Dukungan Bank Indonesia Perwakilan Kepulauan Riau (BI Kepri) kemudian menjadi salah satu bagian dalam pengembangan kapasitas usaha.
“Menjadi bagian dari binaan BI Kepri, tentunya bangga sekali, diajak serta dalam berbagai pelatihan dengan mendatangkan mentor dari Jakarta, diikutsertakan dalam berbagai event BI Kepri”,jelas pak Toto. Seperti beberapa Minggu yang lalu Perrio Batak juga ikut meramaikan gelaran GMP – Gebyar Melayu pesisir yang sukses digelar di K-Square Mall dari tanggal 14-20 September 2026 lalu dengan tema : “Penguatan Warisan Melayu untuk Transformasi Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan”, dengan adanya binaan dari Bank Indonesia Kepulauan Kepri
“ Tahun ini GMP 2026 Bank Indonesia Kepulauan Riau membawa konsep sustainability (berkelanjutan), kita bisa melihat dunia wastra saat ini arahnya sudah ke berlanjutan pelan – pelan kita bisa memenuhi kebutuhan wastra sampai ke luar negeri. Sehingga lambat laun UMKM kita khususnya wastra akan naik kelas/Go Internasional”, ujar Adik Afrinaldi kepala tim implementasi kekda Bank Indonesia kepulauan Riau pada hari Minggu 20/September/2026 di sela – sela acara Fun Charity GMP 2026 Bank Indonesia Kepulauan Riau.
Seiring perkembangan teknologi dan informasi, efisiensi dan kecepatan menjadi hal yang utama. Seperti dengan hadirnya sistem atau alat pembayaran non tunai. Kemajuan teknologi memungkinkan transaksi keuangan tak lagi dilakukan secara cash alias menggunakan alat pembayaran non tunai. ” Menurut saya dengan adanya pembayaran non tunai dan menggunakan QRIS sangat menguntungkan lebih cepat,simple dan mudah diakses”ujar pak Toto. Berbelanja dimananpun kita tidak perlu lagi membawa uang cash,cukup scan barcode.
Hari semakin sore, tetapi obrolan kami semakin menarik . Apalagi melihat pak Toto yang mulai memegang canting tulis , mulai menorehkan cairan lilin malam panas menggunakan canting pada garis pola luar kain dengan tahapan tradisional yang panjang dan teliti. Hasilnya terlihat rapih dan ada rasa puas dari raut muka pak Toto. “Sampai sekarang belum ada yang pandai membuat batik tulis yang memenuhi standarnya Perrio Batik,kami belum menemukan penerusnya, ”ujarnya.
Harga kain Perrio batik sangat bervariasi dengan ukuran 2 meter – 2,5 meter dipatok mulai Rp180.000,- Rp2.500.000.000,- tergantung motif. Semakin rumit motifnya semakin tinggi juga harganya. Bagi para pengrajin, cara kerja manual tersebut menjadi bagian dari karakter produk. Semakin detail prosesnya, semakin besar pula keterampilan yang dibutuhkan. “Strategi pemasarannya pun sepenuhnya memanfaatkan media social, dan ada juga di beberapa galeri dan Dekranasda,”jelas bu Ida.
Melalui goresan tangan pak Toto semoga karya –karya Periio Batik semakin bersinar di Kota Batam ,kepulauan Riau dan mendunia.