Print this page
Tahun 2026 Investor Kepri Bertambah 99.144 Orang , Pasar Modal Makin Diminati,
Monday, 26 October 2026 16:59

Tahun 2026 Investor Kepri Bertambah 99.144 Orang , Pasar Modal Makin Diminati,

BATAM – Di tengah dinamika pasar saham yang masih diwarnai fluktuasi, minat masyarakat Kepulauan Riau (Kepri) untuk berinvestasi di pasar modal justru menunjukkan tren positif. Hingga akhir September 2026, jumlah investor di wilayah ini mencapai 297.128 investor, meningkat 99.144 investor dibandingkan posisi akhir Januari 2026.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin luasnya partisipasi masyarakat dalam investasi pasar modal, sekaligus menunjukkan bahwa literasi dan akses terhadap instrumen investasi mulai menjangkau lebih banyak kalangan.

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kepulauan Riau, Indra Novita, mengatakan jumlah investor di Kepri tumbuh 50,08 persen secara year-to-date (YtD) atau sejak awal tahun hingga September 2026.

Menurut Indra, pertumbuhan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan pasar modal di daerah, terutama karena Kepri mampu mengikuti tren peningkatan jumlah investor secara nasional.

“Kepri juga tidak ketinggalan untuk mengejar pertumbuhan investor seperti skala nasional. Ini menjadi hal yang menggembirakan bagi kami insan pasar modal,” ujar Indra Novita disela sela media gathering bareng media di Baba Restaurant Batam Center Jumat (23/10/2026).

Berdasarkan data yang disampaikan BEI, jumlah investor pasar modal Indonesia tercatat sebanyak 20.325.237 investor pada akhir Januari 2026, kemudian meningkat menjadi 31.021.366 investor pada akhir September 2026.

Dengan demikian, terdapat penambahan sekitar 10,69 juta investor selama periode tersebut, dengan pertumbuhan sekitar 52,62 persen.

Indra Novita juga menyebutkan jumlah investor pasar modal secara nasional telah menembus angka 32 juta pada Oktober 2026. Angka tersebut memperlihatkan besarnya potensi pasar domestik di tengah upaya memperluas basis investor dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam perekonomian.

Namun, pertumbuhan tersebut juga perlu diimbangi dengan edukasi yang memadai agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tren, tetapi memahami karakteristik, potensi keuntungan, dan risiko setiap instrumen investasi.

Di balik pertumbuhan jumlah investor, pasar saham masih menghadapi tantangan. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir dipengaruhi berbagai sentimen, mulai dari perkembangan ekonomi global hingga kondisi sosial dan politik.

Indra menjelaskan, pernyataan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) sempat memicu kekhawatiran di kalangan investor. 

Namun, menurut dia, tekanan terhadap IHSG tidak dapat dilepaskan dari sejumlah faktor lain, termasuk kebijakan suku bunga internasional.

 “Pada hari pertama saat MSCI mengeluarkan pernyataan, memang ada kepanikan dari investor. Tetapi, penurunan IHSG bukan hanya disebabkan hal itu, melainkan juga faktor-faktor lain, seperti suku bunga internasional dan kondisi sosial politik,” jelasnya.

MSCI memiliki pengaruh terhadap dinamika investasi karena indeks dan penilaiannya menjadi salah satu acuan bagi investor domestik maupun asing dalam menentukan strategi penempatan dana.

Ia berharap langkah strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama BEI dalam mereformasi pasar modal dapat memperkuat transparansi, meningkatkan kepercayaan investor, serta mendukung perkembangan pasar yang lebih sehat.

Menurut dia, investor berpengalaman umumnya tidak hanya berpatokan pada pergerakan harga saham dalam jangka pendek. Mereka juga mempertimbangkan kondisi fundamental, prospek usaha, serta kinerja perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.

Read 20 times