Senyum manisnya merekah setiap ada konsumen yang mampir ke standnya,ramah dan hangat sambutannya,Pertanyaan konsumen dijawab satu demi satu,mampir hanya untuk sekedar melihat lihat jajaran koleksi dari Rumah Tenun Arios ataupun tak jarang langsung deal. Modelnya kece kece, dengan dimodifikasi kain Tenun, Lurik ,Wastra ataupn kain polos.Rumah Tenun Arios salah stand di GMP 2025 (Gebyar Melayu Pesisis) Bank Indonesia Kepri yang berlangsung dari tanggal 21-24 Agustus 2025 di One Batam Mall.
Stand Rumah Tenun Arios menawarkan berbagai kain batik dan juga fashion kekinian karya Bu Ati Sulastri pemilik dan sekaligus desainer kelahiran Bangka. Memulai usahanya karena hobby tapi dari hobby itulah ia sudah punya toko di DC Mall , Panbil Mall & rumahnya , “Awalnya sih hanya hobby, kebetulan ibu saya juga dulunya pengrajin,beliau pernah berpesan kamu harus punya sesuatu yg berbeda dgn orang lain,supaya kamu punya produk bisa laku”, ujarnya mengawali obrolan kami.
Rumah tenun dan Batik Arios adalah sebuah usaha yang bergerak di industri kain Kepri dengan membangun kolaborasi Rumah Tenun dan Batik Arios dengan pengrajin batik di Batam melalui dukungan pemberdayaan perempuan para pengrajin. Mengusung motif unggulan khazanah budaya melayu dan kekayaan biota laut di sekitar wilayah Kepulauan Riau. Motif yang paling banyak digemari adalah Gonggong, dan hampir semua koleksi fashionnya ini selalu dimodifikasi biar lebih menjual dan masuk keberbagai kalangan.
“Anak –anak muda & ibu ibu pejabat di Batam dan Kepri banyak menjadi pelanggan setia Rumah Tenun Arios,mereka membeli koleksi koleksi baju batik Arios, dan saya sangat bersyukur sekali selama GMP hari ketiga saya sudah 3x tambah produk dengan penghasilan sekitar Rp20.000.000,- dari taget Rp30.000.000 ”,tambahnya.
Bu Ati Sulastri memulai usahanya tahun 2018 an dan sudah menjadi binaan Bank Indonesia Kepri ,barangkali diluar sana masih banyak para UMKM bertanya tanya susah gak sih menjadi binaaan BI Kepri? .”Saya bersyukur bisa menjadi binaan Bank Indonesia Kepri,kita harus punya produk,konsisten,fokus,naik kelas,dalam arti produk kita itu harus berkembang dengan mengikuti tahapan tahapn ,kita belajar banyak di bidang kwalitas produk,ngebranding,mengelola keuangan dan juga mengenai sistem”terangnya.
Menurut bu Ati orang orang lebih memilih baju yang sudah jadi daripada membeli kain batik, tidak lagi memikirkan ongkos jahit yang lumayan mahal!! Belum lagi kalau kita minta di modifikasi dengan bahan yang lain,wah tambah mahal pastinya. Sebagai gambaran, beberapa sumber menyebutkan kisaran harga menjahit di Batam: Harga untuk menjahit baju berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 600.000, tergantung modelnya.
Hari semakin senja,tapi obrolan saya & Bu Ati tambah menarik apalagi saat bercerita bahwa ternyata koleksinya ini sudah tersebar ke Singapore & Thailand. “Produk Arios sudah dibelil Bayan Tree, mereka beli putus, kadang pihak Bayan Tree membeli sampai 100 pc fashion, lalu mereka akan sebar ke 4 properti yg ada di Thailand,Singapore,Bali & lagoi. Kerjasama ini sudah berjalan kurang lebih 2 tahun,hal ini dibenarkan oleh pihak dari Bayan Tree (bag purchasing) Ya semoga saja Rumah Tenun Arios bisa Go International langsung dari Batam”harapnya.
Sampai saat ini beberapa hotel diBatam seperti Turi beach,Nongsa Point Marina & Hotel Ibis sering mengundang Bu Ati untuk membuka stand pada hari Jumat – Minggu,dengan harapan tamu tamu yang dari Singapor dan Malaysia bisa berbelanja produk produknya. “Saya berharap kedepannya Bank Indonesia Kepri punya satu tempat atau galery untuk para UMKM,biar bisa menampung produk produk unggulan kami,dan memudahkan turis untuk berbelanja”tutupnya. Semoga ya bu!!!
